Makassar, INFODAENGAPPA. ID – PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk menjalin kerja sama menghadirkan program Perlindungan Optimal Penyakit Kritis. Inisiatif ini ditujukan untuk memberi kemudahan akses bagi masyarakat dalam memperoleh perlindungan kesehatan di tengah meningkatnya risiko penyakit kritis.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan memproyeksikan Indonesia akan memasuki era bonus demografi pada 2030 hingga 2035. Saat itu, penduduk usia produktif mendominasi, sehingga peluang pertumbuhan ekonomi semakin terbuka. Namun, kondisi tersebut hanya bisa dimanfaatkan maksimal apabila masyarakat tetap sehat dan memiliki ketahanan finansial.

Miressa Moravia, Head of Bancassurance & Group Collaboration PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, mengingatkan bahwa risiko penyakit kritis kini semakin dekat dengan kelompok usia produktif. “Kami melihat pentingnya perlindungan yang komprehensif, terjangkau, dan mudah diakses oleh masyarakat aktif dan dinamis,” ujarnya pada Kamis 18/9/2025.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, sepanjang 2023 kasus penyakit kritis meningkat 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyakit jantung tercatat sebagai penyumbang kasus tertinggi. Fakta ini menegaskan bahwa penyakit kritis tidak hanya mengintai usia lanjut, melainkan juga mereka yang sedang berada di masa produktif.

Melalui kerja sama ini, akses terhadap perlindungan kesehatan dapat diperoleh melalui kanal perbankan yang lebih terintegrasi. Dengan begitu, masyarakat memiliki pilihan tambahan dalam menjaga kondisi kesehatan sekaligus keberlanjutan perencanaan masa depan.

Consumer Funding & Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Ivan Jaya, menyampaikan pentingnya integrasi layanan finansial dengan kebutuhan perlindungan kesehatan. “Kami ingin memastikan masyarakat dapat merencanakan masa depan tanpa hambatan yang datang dari risiko kesehatan,” katanya.

Dalam peluncuran program ini, publik figur Shahnaz Haque turut berbagi pengalaman pribadi menghadapi penyakit kritis dalam keluarga. Menurutnya, risiko bisa muncul tanpa diduga, bahkan di usia produktif. “Biaya pengobatan yang besar dapat menguras emosi dan finansial. Karena itu, perlindungan kesehatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” ungkapnya.

Shahnaz menekankan, persiapan menghadapi risiko kesehatan bukan hanya soal menjaga diri, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap keluarga dan orang-orang terdekat. Menurutnya, langkah ini bisa membantu memastikan mimpi yang sedang dibangun tetap berlanjut meski tantangan datang tanpa diduga.

Dengan kolaborasi ini, kedua lembaga menegaskan komitmen untuk mendukung masyarakat dalam menghadapi risiko kesehatan, sehingga generasi produktif dapat terus berkontribusi dan menjaga masa depan yang lebih baik.(*/At)