Makassar, INFODAENGAPPA. ID – Basarnas Kelas A Makassar menggelar kegiatan Koordinasi Reviu Kerja Sama Indonesia–Papua Nugini (PNG) serta pembahasan Letter of Operational Coordination Agreement (LOCA) Indonesia–Timor Leste, Selasa (02/12/2025). Kegiatan berlangsung di ruang rapat Basarnas Makassar dengan menghadirkan sejumlah Kepala Kantor SAR dari wilayah timur Indonesia.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Basarnas RI, Didi Hamzar, bersama perwakilan KKS Kupang, Manokwari, Ambon, Mamuju, Jayapura, Merauke, dan Sorong. Pertemuan ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas negara dalam operasi pencarian dan pertolongan di wilayah perbatasan.

Didi Hamzar menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah penting untuk memastikan efektivitas kerja sama SAR antara Indonesia, Timor Leste, dan Papua Nugini. “Dokumen kerja sama kita cermati kembali apakah masih relevan, kemudian diadaptasikan sesuai kondisi saat ini,” ujarnya.

Menurutnya, kerja sama lintas batas harus dinamis karena kondisi dan kebutuhan operasi SAR dapat berubah sewaktu-waktu. “Harapan kami, seluruh pihak dapat menyepakati mekanisme bersama, sehingga ketika terjadi situasi darurat di perbatasan, bantuan bisa diberikan secara cepat,” kata Didi.

Ia juga menguraikan beberapa ruang lingkup kerja sama yang menjadi pembahasan, seperti uji komunikasi berkala, pelaksanaan joint exercise, pembentukan posko, hingga manuver lapangan. “Semua ini nantinya mengarah pada joint operation. Jika ada kapal tenggelam atau kecelakaan di perbatasan, respon SAR bisa dilakukan tanpa hambatan,” jelasnya.

Didi menambahkan bahwa kesiapsiagaan ini menjadi tuntutan global karena Indonesia merupakan anggota IMO dan IAMSAR yang rutin diaudit. “Kita dinilai sejauh mana kesiapan menghadapi kecelakaan di perbatasan. Jadi kita harus adaptif mengikuti standar internasional,” ujarnya.

Mengenai kerja sama dengan Timor Leste, ia menegaskan bahwa MOU yang sudah ditandatangani harus diikuti kegiatan yang nyata. “Kerja sama tidak boleh hanya di atas kertas. Karena itu hari ini kita konsolidasi agar kertas kerja ini konstruktif sebelum dibawa ke forum tingkat lebih tinggi,” terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pengerahan kekuatan SAR tidak hanya bergantung pada satu kantor, tetapi kolaboratif. “Kadang kekuatan datang dari Makassar, Biak, atau wilayah terdekat lainnya. Makanya konektivitas antar-kantor SAR harus kuat,” kata Didi.

Sementara itu, Kepala Basarnas Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat hubungan bilateral di bidang pencarian dan pertolongan. “Kerja sama SAR Indonesia–PNG dan Indonesia–Timor Leste sangat penting untuk keselamatan di wilayah perbatasan,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa reviu ini juga merupakan tindak lanjut dari forum Border Liaison Official Meeting sebelumnya. “Review yang kita lakukan hari ini menjadi bagian untuk memastikan program kerja sama berjalan optimal dan dapat dievaluasi secara menyeluruh,” jelas Arif.

Menurutnya, terdapat dua fokus utama dalam pertemuan ini, yakni pembahasan ulang perjanjian SAR Indonesia–PNG yang telah ditandatangani tahun 2002 serta penyusunan LOCA Indonesia–Timor Leste. “Keduanya penting untuk memperkuat pedoman operasional di lapangan,” katanya.

Arif menambahkan bahwa upaya penguatan kerja sama ini mencakup peningkatan kapasitas personel, harmonisasi prosedur, serta pemutakhiran mekanisme koordinasi lintas batas. “Respons cepat tanpa batas administratif adalah kunci operasi SAR, sehingga prosedur harus jelas dan seragam,” ujarnya.

Ia berharap pertemuan ini menghasilkan rumusan teknis yang dapat langsung diterapkan oleh seluruh pihak. “Kami ingin kerja sama ini tidak hanya formalitas, tetapi memberi manfaat nyata bagi keselamatan manusia,” tandas Arif.

Selain itu, Arif menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi, baik yang hadir langsung maupun secara daring. “Terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi. Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik bagi kerja sama SAR antarnegara,” tutupnya.(*/Atr)