Makassar, INFODAENG4.ID – Basarnas Makassar memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan menyusul peringatan cuaca ekstrem dari BMKG mulai 2 hingga 5 Desember 2025.

Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan peningkatan kesiapsiagaan dilakukan setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi Reviu Kerja Sama SAR Indonesia–Papua yang berlangsung di Kantor Basarnas Makassar, Selasa (2/12/2025).

Menurut Arif, peningkatan kesiapsiagaan tersebut merupakan langkah antisipasi atas potensi banjir, longsor, dan situasi darurat lain yang kerap terjadi di akhir tahun. “Kami menambah jumlah personel siaga dari enam menjadi 12 orang dalam satu shift untuk memastikan respons cepat ketika bencana terjadi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa curah hujan tinggi pada periode ini hampir selalu berulang setiap tahun sehingga seluruh unsur SAR di daerah harus bersiap. “Dengan adanya peringatan BMKG, kami memang harus stand by. Bencana tidak menunggu peringatan khusus, jadi ketika datang kita harus siap,” tegasnya.

Basarnas Makassar juga telah menginstruksikan peningkatan kesiapsiagaan di seluruh pos dan unit siaga. Arif menyebut terdapat 5 unit siaga di Parepare, Masamba, Morowali, Toraja, serta satu tambahan, dan 3 pos SAR masing-masing di Selayar, Bantaeng, dan Bone.

“Saya sudah meminta semua unit dan pos untuk benar-benar meningkatkan kewaspadaan. Mereka harus siap bergerak setiap saat, mengingat kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi,” tuturnya.

Dalam upaya mitigasi, Basarnas Makassar memperkuat koordinasi dengan berbagai potensi SAR daerah, termasuk TNI, Polri, BPBD, Dinas Sosial, Damkar, serta pemerintah kabupaten/kota. Arif menegaskan koordinasi lintas instansi sangat menentukan kecepatan penanganan di lapangan.

Arif juga menyebut sejumlah titik rawan bencana yang terus dipantau, terutama wilayah pegunungan seperti Wajo dan Toraja yang kerap mengalami longsor. Sementara untuk Kota Makassar, potensi banjir kiriman menjadi perhatian utama di kawasan Pacerakkang dan Manggala.

“Jika intensitas hujan tembus tiga hingga empat jam, potensi banjir di Makassar hampir pasti terjadi. Karena itu kami sudah mengantisipasi dengan menyiagakan personel dan peralatan di lokasi-lokasi rawan,” jelasnya.

Saat ini, Basarnas Makassar memiliki 215 personel yang tersebar di kantor induk, pos SAR, dan unit siaga. Setiap unit diperkuat 12 personel untuk memastikan kecepatan mobilisasi saat bencana muncul.

Arif juga menyinggung insiden terbaru di Bantaeng, di mana curah hujan tinggi sempat menaikkan debit air. “Personel kami sudah turun memantau, tetapi tidak ada permintaan evakuasi. Situasi terkendali,” katanya.

Basarnas Makassar memastikan seluruh unsur SAR tetap siaga penuh hingga akhir periode peringatan cuaca ekstrem sambil memantau perkembangan kondisi di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.(*/At)