JAKARTA, INFOAENGAPPA. ID — ASUS memperkenalkan Arsitektur Artificial Intelligence (AI) hybrid yang kini terintegrasi pada seluruh lini perangkat komersialnya, mulai dari laptop ASUS ExpertBook, desktop ASUS ExpertCenter, hingga PC mini ASUS NUC. Teknologi ini dirancang untuk membantu perusahaan mengoptimalkan penggunaan AI generatif dengan biaya yang lebih efisien.

Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya pemanfaatan model bahasa besar atau Large Language Models (LLM) dan agen AI di lingkungan bisnis. Di sisi lain, biaya inferensi berbasis cloud yang terus meningkat menjadi tantangan bagi banyak perusahaan dalam mengembangkan teknologi AI secara luas.

Melalui arsitektur AI hybrid, ASUS menghadirkan sistem yang mampu membagi beban kerja secara dinamis antara perangkat lokal dan layanan cloud. Pendekatan ini memungkinkan sebagian proses AI dijalankan langsung pada perangkat, sementara tugas yang lebih kompleks tetap ditangani cloud.

General Manager Commercial PC Business Unit ASUS, Bryan Chang, mengatakan keseimbangan antara performa dan biaya menjadi perhatian utama dalam implementasi AI perusahaan saat ini.

“Dengan AI hybrid, kami ingin memindahkan lebih banyak pemrosesan AI ke perangkat, mengurangi ketergantungan pada sumber daya cloud, serta meningkatkan efisiensi dan kepraktisan,” ujar Bryan Chang.

Menurutnya, perluasan teknologi tersebut ke berbagai perangkat komersial menunjukkan komitmen ASUS dalam menghadirkan solusi AI yang dapat diterapkan secara nyata dan terukur di berbagai sektor bisnis.

Pada sisi teknologi, ASUS mengintegrasikan aiDAPTIV milik Phison yang memungkinkan perangkat dengan spesifikasi terbatas menjalankan model AI berukuran menengah hingga besar secara lokal. Teknologi ini membantu mengatasi keterbatasan memori yang selama ini menjadi hambatan dalam pemrosesan AI.

Selain itu, sistem gateway cerdas yang disematkan mampu mengatur distribusi tugas berdasarkan tingkat kompleksitasnya. Pemrosesan lokal akan diprioritaskan terlebih dahulu untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

Berdasarkan hasil pengujian PinchBench, metode inferensi hybrid diklaim mampu menekan biaya inferensi hingga 70 persen untuk model AI berskala menengah dan besar tanpa mengorbankan performa.

CEO Phison, K.S. Pua, menyebut kolaborasi dengan ASUS menjadi bukti bahwa teknologi AI dapat diimplementasikan secara lebih efisien di lingkungan perusahaan.

“aiDAPTIV memungkinkan eksekusi lokal model AI yang lebih besar dengan mengatasi keterbatasan memori tradisional, sementara inferensi hybrid secara signifikan mengurangi biaya komputasi secara keseluruhan,” kata K.S. Pua.

ASUS menilai teknologi AI hybrid dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan bisnis, seperti penerjemahan multibahasa, penyusunan email, ringkasan rapat, analisis dokumen, layanan pelanggan otomatis, hingga pengelolaan basis pengetahuan internal.

Dengan lebih banyak proses dilakukan secara lokal, perusahaan dapat meningkatkan privasi data sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan token cloud yang berbiaya tinggi.

Ke depan, ASUS berencana terus mengembangkan ekosistem AI pada perangkat komersialnya melalui integrasi perangkat keras, perangkat lunak, dan kolaborasi teknologi. Upaya tersebut ditujukan untuk mendukung transformasi digital perusahaan melalui infrastruktur AI yang efisien, fleksibel, dan berkelanjutan.(*)